PUBLIKASI HASIL ANALISIS DATA PENGUKURAN STUNTING DI TINGKAT KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2023
Keterangan Gambar : Peroses Penimbangan berat badan balita

PUBLIKASI HASIL ANALISIS DATA PENGUKURAN STUNTING DI TINGKAT KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2023

I. STUNTING DI KABUPATEN TANAH LAUT

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. (sumber : Perpres 72 Tahun 2021).

 

ARAHAN PRESIDEN PADA RATAS TANGGAL 5 AGUSTUS TAHUN 2020

1. Fokus penurunan stunting di 10 provinsi yang memiliki prevalensi stunting tertinggi, di antaranya NTT (Nusa Tenggara Timur), Sulbar (Sulawesi Barat), NTB (Nusa Tenggara Barat), Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

2. Memberikan akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil maupun balita di Puskesmas dan Posyandu dipastikan tetap berlangsung.

3. Tingkatkan upaya promotif, edukasi dan sosialisasi bagi ibu-ibu hamil serta pada keluarga harus terus digencarkan sehingga meningkatkan pemahaman untuk pencegahan stunting, dengan melibatkan PKK, tokohtokoh agama, tokoh masyarakat RT dan RW serta relawan, dan kita harapkan ini menjadi gerakan bersama di masyarakat

4. Upaya penurunan stunting berkaitan dengan program perlindungan sosial, terutama Program Keluarga Harapan (PKH), kemudian pembagian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan juga pembangunan infrastruktur dasar yang menjangkau keluarga-keluarga yang tidak mampu.

 

INTERVENSI SPESIFIK Sektor Kesehatan (Berkontribusi 30%)

1. Layanan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil kurang energi kronik (KEK) dan balita kurus

2. Pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri

3. Layanan ibu hamil Kontak minimal 4 kali selama kehamilan (K4)

4. Pemberian vitamin A untuk balita (6 bulan – 59 bulan)

5. Imunisasi dasar lengkap

6. Pelayanan ibu Nifas

7. Pemberian zinc balita diare

8. Balita gizi mendapat perawatan

9. ASI eksklusif dan Makanan Pengganti ASI (MP ASI)

INTERVENSI SENSITIF Sektor Non-Kesehatan (Berkontribusi 70%)

1. Penyediaan sanitasi yang layak

2. Penyediaan air minum yang layak

3. Konseling gizi dan Bina keluarga balita

4. Layanan Pendidikan anak usia dini (PAUD)

5. Program perlindungan sosial : JKN/Jamkesda, program keluarga harapan

6. Kawasan rumah pangan Lestari

 

PERAN KABUPATEN/KOTA DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING

1. Menyiapkan kebijakan berkaitan dengan penurunan stunting

2. Melaksanakan Standar Pelayanan Minimal secara Maksimal

3. Menetapkan target percepatan penurunan stunting untuk mendukung pencapaian target nasional

4. Menetapkan program dan kegiatan terkait penurunan stunting, dalam dokumen perencanaan dan penganggaran

5. Meningkatkan alokasi dan efektifitas penggunaan dana desa untuk penurunan stunting

6. Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penurunan stunting

7. Untuk Penurunan Stunting Pemda melaksanakan 8 aksi konvergensi

8. Melibatkan peran multisektor termasuk non pemerintahahan dalam upaya penurunan stunting

 

Delapan Aksi Konvergensi : Instrument dalam bentuk kegiatan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk memperbaiki manajemen penyelenggaraan pelayanan dasar agar lebih terpadu dan tepat sasaran

· Aksi 1 - Analisis Situasi.

· Aksi 2 - Rencana Kegiatan.

· Aksi 3 - Rembuk Stunting.

· Aksi 4 - Peraturan Bupati/Walikota tentang Peran Desa. (Dinas PMD)

· Aksi 5 - Pembinaan Kader Pembangunan Manusia. (Dinas PMD)

· Aksi 6 - Sistem Manajemen Data Stunting.

· Aksi 7 - Pengukuran dan Publikasi Stunting. (Dinkes dan BKKBN)

· Aksi 8 - Reviu Kinerja Tahunan.

 

DESA LOKUS STUNTING TAHUN 2023

KABUPATEN TANAH LAUT

 

NO

NAMA DESA/ KELURAHAN

PUSKESMAS

KECAMATAN

PERSENTASE STUNTING

JUMLAH STUNTING

1

Raden

Padang Luas

Kurau

43,75

21

2

Bawah Layung

Padang Luas

Kurau

36,36

24

3

Tambak Sarinah

Padang Luas

Kurau

28,75

23

4

Tampang

Angsau

Pelaihari

25,45

14

5

Tambak Karya

Padang Luas

Kurau

18,00

18

6

Padang Luas

Padang Luas

Kurau

13,68

16

7

Sungai Riam

Sungai Riam

Pelaihari

12,27

33

8

Liang Anggang

Bentok Kampung

Bati-Bati

11,76

36

9

Ujung Batu

Pelaihari

Pelaihari

11,66

26

10

Jorong

Jorong

Jorong

11,03

29

11

Benua Raya

Bati-Bati

Bati-Bati

10,07

30

12

Asam-Asam

Asam-Asam

Jorong

9,82

39

13

Ujung

Bati-Bati

Bati-Bati

9,51

25

14

Sabuhur

Jorong

Jorong

9,03

25

15

Pelaihari

Pelaihari

Pelaihari

6,7

29

16

Banyu Irang

Bati-Bati

Bati-Bati

6,53

15

17

Bentok Darat

Kait-Kait

Bati-Bati

6,27

18

18

Simpang Empat Sungai Baru

Asam-Asam

 

5,9

39

19

Nusa Indah

Bati-Bati

Bati-Bati

5,6

22

20

Sarang Halang

Angsau

Pelaihari

5,11

21



DESA LOKUS STUNTING TAHUN 2024

KABUPATEN TANAH LAUT

 

NO

NAMA DESA/ KELURAHAN

PUSKESMAS

KECAMATAN

PERSENTASE STUNTING

JUMLAH STUNTING

1

Simpang Empat Sungai Baru

Asam Asam

Jorong

11.03

75

2

Asam Asam

Asam Asam

Jorong

16.93

65

3

Benua Raya

Bati Bati

Bati Bati

14.48

43

4

Tambak Sarinah

Padang Luas

Kurau

21.57

22

5

Bawah Layung

Padang Luas

Kurau

20.20

20

6

Batu Ampar

Tajau Pecah

Batu Ampar

18.98

26

7

Sungai Riam

Sungai Riam

Pelaihari

11.59

32

8

Ujung

Bati Bati

Bati Bati

11.41

30

9

Sabuhur

Jorong

Jorong

9.57

29

10

Padang Luas

Padang Luas

Kurau

18.69

20

11

Raden

Padang Luas

Kurau

16.18

11

12

Asam Jaya

Asam Asam

Jorong

12.37

23

13

Sarikandi

Padang Luas

Kurau

15.79

9

14

Tambak Karya

Padang Luas

Kurau

15.15

15

15

Panggung Baru

Panggung

Pelaihari

11.71

13

16

Sumber Mulia

Sungai Riam

Pelaihari

10.57

13

17

Ujung Baru

Bati Bati

Bati Bati

8.37

20

18

Nusa Indah

Bati Bati

Bati Bati

5.56

26

19

Karang Rejo

Asam Asam

Jorong

7.29

18

20

Bati Bati

Bati Bati

Bati Bati

5.10

20

21

Liang Anggang

Bentok Kampung

Bati Bati

4.96

20

22

Panggung

Panggung

Pelaihari

7.33

22

23

Kelurahan Angsau

Angsau

Pelaihari

2.85

27

24

Swarangan

Jorong

Jorong

9.14

16

25

Bingkulu

Tambang Ulang

Tambang Ulang

9.16

12

26

Kelurahan Pelaihari

Pelaihari

Pelaihari

2.78

18

27

Gunung Mas

Tajau Pecah

Batu Ampar

8.66

11


Prevalensi Stunting di Kabupaten Tanah Laut dari tahun 2020 s.d 2023



Capaian 11 intervensi spesifik percepatan penurunan stunting September 2023:

 

11 Intervensi spesifik percepatan penurunan stunting

 

 

Target

 

Capaian September 2023

 

Intervensi untuk Rematri dan Ibu Hamil (sebelum melahirkan)

1

Remaja putri menjalankan skrining anemia

 

70 %

 

74.74%

2

Remaja putri mengonsumsi TTD

 

54 %

96.71%

3

Ibu hamil menjalani pemeriksaan kehamilan / ANC (ante-natal care)

92 %

4.231 ( 59%)

4

Ibu hamil mengonsumsi TTD selama kehamilan

 

82 %

59%

5

Ibu hamil KEK (kurang energi kronik) mendapat tambahan asupan gizi

 

80 %

100 %

Intervensi untuk balita (setelah kelahiran)

 

6

Pemantauan pertumbuhan balita

 

80 %

63.22% /57,95%

7

Bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif

 

55 %

76.38%

8

Anak usia 6-23 bulan mendapat MP-ASI* (makanan pendamping ASI)

 

 

89.52%

9

Balita gizi kurang mendapatkan tambahan asupan gizi

 

85 %

100 %

Intervensi lintas siklus hidup

 

10

Bayi memperoleh imunisasi dasar lengkap

22,5 %

53,1 %

11

Desa bebas dari BABS (buang air besar sembarangan

70 %

 

 

Tabel 1. Angka Balita dan Partisipasi pengukuran

Tahun

Jumlah Balita

Jumlah balita di ukur

Persen

2020

33142

20772

62,68

2021

33142

31619

95,40

2022

29555

24391

82,53

2023

30123

27362

90,72

 

Berdasarkan hasil pengukuran bulan Agustus 2023 data ditarik pada Tanggal 18 September 2023 didapatkan sebanyak 27.362 balita di ukur (90,72%) dan ada 1244 balita di temukan stunting (Pendek dan sangat pendek) 4,55%. Balita yang memiliki tinggi normal sebanyak 23.625

Tabel 2. Rekap Status Gizi Balita pada bulan Agustus 2023

No

Kabupaten

BB/U

TB/U

BB/TB

Sangat Kurang

Kurang

Berat Badan Normal

Risiko Lebih

Sangat Pendek

Pendek

Normal

Tinggi

Gizi Buruk

Gizi Kurang

Normal

Risiko Gizi Lebih

Gizi Lebih

Obesitas

1

TANAH LAUT

219

1330

24866

947

284

960

25836

167

135

854

24264

1479

377

139

 

II. FAKTOR DETERMINAN KEJADIAN STUNTING

Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK di samping berisiko pada hambatan pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Stunting dan masalah gizi lain diperkirakan menurunkan produk domestik bruto (PDB) sekitar 3% per tahun.

Adapun penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut secara tidak langsung mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah malnutrisi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi. Adapun Penyebab tidak langsung masalah stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor,meliputi pendapatan dan kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan. Untuk mengatasi penyebab stunting, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup: (a) Komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan; (b) Keterlibatan pemerintah dan lintas sektor; dan (c) Kapasitas untuk melaksanakan.

 

Tabel 3.  Faktor Determinan Kejadian Stunting Bulan Agustus 2023

JKN

AIR BERSIH

KECACINGAN

JAMBAN SEHAT

KEBIASAAN MEROKOK

RIWAYAT IBU HAMIL

PENYAKIT PENYERTA

72.11

84,81

0,48

78,30

65,35

13,34

1,37

 

Berdasarkan tabel diatas, sebanyak 1244 balita terdata stunting dilakukan pelacakan faktor determinan yang mempengaruhi kejadian stunting. Seperti keluarga yang memiliki JKN sebanyak 72,11%, layanan air bersih semua keluarga memiliki sedangkan jamban sehat  dimiliki 78,30% keluarga balita, untuk kejadian penyakit penyerta di temukan 17 kasus dari 1244 balita Penyakit Penyerta yang dilaporkan seperti PJB, Hidrosefalus, TB Paru. Faktor determinan kejadian anak balita mengalami kecacingan sebanyak 6 balita dari 1244 balita. Untuk faktor determinan merokok ada 813 yang orang tuanya merokok. Riwayat ibu balita selama hamil sebanyak 166 (13,34%).

 Tabel 4. Tren Prevalensi Stunting Kabupaten Tanah Laut

Tahun

Prevalensi Stunting

2020

10,67

2021

6,41

2022

5,35

2023

4,55

 

 Data Tahun 2020 dan 2021 merupakan data penarikan dari Aplikasi EPPGBM pada bulan penimbangan yaitu bulan Februari seklaigus dijadikan data dasar sebagai penentuan Lokus di tahun selanjutnya. Tren Prevalensi stunting mengalami penurunan setiap tahun, untuk tahun 2022 pada bulan Februari berdasarkan data EPPGBM ddidapatkan 4,27% dengan jumlah balita yang diukur 25.456 balita, sedangkan balita yang mengalami stunting di bulan Februari 2022 sebanyak 1086 balita. Untuk data bulan Agustus 2022 ditemukan 1306 balita mengalami stunting (5.35%)

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan halaman ini

Berita Lainnya